Skip to main content

Teman Baik?

Kembali di sini. Menulis, di sebuah café yang tenang dengan dinding-dinding kaca yang membuat sinar matahari menembus bening kaca. Baru saja kembali dari Bali, kota yang ingin Aku tinggali suatu saat nanti. Sudah jarang bagiku untuk pergi ke tempat gym, karena terlalu sibuk dengan kehidupan perkuliahan. Minggu depan adalah hari pemilihan presiden ditambah dengan libur paskah yang dapat membuatku pulang ke kampung halaman tercinta selama beberapa hari. Baru kali ini Aku sangat ingin sekali pulang, bertemu dengan kakak pertamaku yang sedang mengandung keponakan kedua ku, kakak kedua yang selalu mengajakku pergi ke luar rumah seolah-olah diriku adalah teman kencannya, dan yang paling utama, bertemu dengan Mama, yang selalu tersenyum apapun keadaannya. Baru saja Aku bertemu dengannya ketika liburan tahun baru imlek dua bulan lalu, tetapi terasa seperti sudah lama Aku tidak bertemu dengannya. 

 

Kehidupan perkuliahan yang semakin lama semakin rumit, bukan hanya tugas yang diberikan dan kehidupan mengajar sebagai asisten dosen, tetapi hubungan pertemanan. Semakin diriku bertambah tua, Aku semakin mengenali diriku sendiri dan teman yang sebenarnya. Banyak hal yang Aku pelajari hingga hari ini, yang membuatku selalu berpikir sebelum bertindak. Banyak yang sudah mengenal arti teman yang sebenarnya namun Aku percaya arti itu berbeda-beda tergantung dengan orang yang memandangnya. Tidak mudah untuk dapat benar-benar mengenal seseorang, apalagi menerima seseorang untuk mengenal diri kita untuk lebih jauh. Membuka diri untuk dikenali oleh seseorang sangatlah sulit bagiku, terbiasa untuk menyimpan segalanya sendiri, bahkan salah satu teman baikku berkata ia masih belum benar-benar mengenal diriku. 

 

Bagiku tidak semua hal harus dibagikan, apalagi hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Beberapa orang menganggap gaji bukanlah hal yang dapat dibagikan karena itu adalah hal yang hanya boleh diketahui olehnya dan perusahaan tempat ia bekerja. Beberapa orang lainnya menganggap masa lalu adalah hal yang tidak sepatutnya dibicarakan sekarang, terutama masa lalu yang kelam. Menurut mereka masa lalu sudahlah berlalu, tidak seharusnya untuk dibicarakan pada saat ini. Beberapa orang lainnya mungkin beranggapan bahwa agama yang mereka percayai bukanlah hal yang seharusnya mereka dibagikan, karena hal itu adalah hubungan personal mereka kepada Tuhan. 

 

Jadi, apa hal sensitif yang tidak ingin Aku bagikan kepada orang-orang? Tentunya tidak akan Aku bagikan disini. Menurutku, mungkin, beberapa orang tau hal apa yang tidak ingin Aku bicarakan kepada mereka, tetapi sampai saat ini, belum ada orang yang pernah bertanya langsung kepadaku. 

 

Pertanyaan yang selalu muncul dalam diriku, apakah seorang “teman baik” harus mengetahui segala hal tentang diri kita? Apakah mereka tidak dapat disebut “teman baik” apabila mereka belum mengetahui segalanya? Apa indikator yang membuat seseorang menjadi teman baik? Apakah orang yang ada disekitar kita ketika kita membutuhkan mereka dapat disebut teman baik? Ya tentu setiap orang memiliki perspektif masing-masing untuk beberapa pertanyaan ini. Tapi bagiku, pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab. 

Comments


  1. teman baik adalah teman yang mengerti arti dari sebuah senyuman dan memahami arti dari setiap air mata. dan yang terpenting dr sebuah pertemanan yang baik adalah keterbukaan dan kesediaan untuk selalu berbagi dalam keadaan apapun , keep our friendship :):)

    ReplyDelete
  2. Engga harus tau segalanya karna segala sesuatunya pasti ada yang privasi. Teman baik adalah teman yang selalu memotivasi, mendukung, sekaligus melarang hal yang gak baik buat teman nya itu. Karna secara ga langsung kita adalah cerminan teman kita itu sendiri hahaha

    ReplyDelete
  3. Temen baik itu ya yang saling menghina. Even saling menghina tapi no buthurt/baper, tetep saling support dan yang terpenting ngerti satu sama lain. Intinya harus lebih banyak menghina to each other sih..

    ReplyDelete
  4. Teman yang baik adalah teman yang tidak buruk.:D

    ReplyDelete
  5. Hmmmm
    Maybe it's the first time i read your blog
    And do you want to know that im so touched and want to cry too
    But i hope you can be useful person for us and make us proud of you

    Then about good friend for me is we can understand each other and control our selfish
    Maybe that's the important thing

    ReplyDelete
  6. Teman baik tidak selalu ada di sekitar kita, tidak selalu mengabari satu sama lain setiap saat, tidak bertemu setiap saat, tidak selalu memuji, tidak selalu pro ke kita, tidak selalu membenarkan kita, tapi mereka selalu ada disaat kita benar2 membutuhkan dan akan berkata sejujurnya saat kita butuh nasehat.

    Semakin dewasa usia kita, lingkaran pertemanan akan semakin kecil, batas toleransi untuk menjadi seorang teman baik pun semakin jelas. Memilih orang untuk menjadi teman bukan berarti kita sombong atau kita mengkotak2kan, tapi kata2 'bagaimana kamu bisa di lihat dari pertemanan' itu berlaku di kehidupan sosial (baik di indonesia maupun diluar).

    Memilih teman disini bukan berdasarkan apa yg mereka punya tapi lebih ke hal positif apa yg bisa menjadikan hidup kita lebih baik. Mumpung masih muda, buat pertemanan sebanyak mungkin karena kamu tidak akan tahu apakah didepan kamu membutuhkan orang itu sebagai teman atau sebagai relasi, namun tetap berhati2 ^^

    ReplyDelete
  7. Temenan mulai dari masih labil"ny di putih abu", awalny dr twin an trus jdi stranger dan berakhir dg teman baik. Setelah melewati byk kali perperangan dan pertengkaran hebat krn ego masing, perbedaan persepsi, care dan syg. Skrg smua ud dewasa :) gk penting lagi tentang siapa yg slalu ad, ngerti dan tau luar dalem....
    Skrg tentang parasitin elu ampe bokek 👌🙄

    ReplyDelete
  8. Teman baik bukan seseorang yg selalu ada, tetapi seseorang yg akan hadir disaat 1000 orang memilih pergi darimu. Keep in touch Chan, I miss you.
    Walaupun jarang bgt komunikasi lagi, tapi nyatanya hingga saat ini belum ada orang yang bisa mengerti aku seperti Chandra. I think, you know me. :) Good job! Always do what you want, keep going and do your best! See you next time!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Fighters of Life

Here I am again. Still trying to keep my blogging streak alive – though let’s be honest, it’s more of a “monthly” streak than anything else. Today, I’m sitting in a café with a full glass wall, watching the rain hit the pavement. The reflection shimmer on the wet ground, swirled by a bit of wind. It’s peaceful in a strange way.    Life’s been so busy lately that I barely have time for myself. But even in the chaos, I feel like I’m moving forward. Like I’ve entered a new chapter. I’m focusing more on the things I actually enjoy, meeting people who inspire me, and starting most mornings with a smile – even if I end the day exhausted, at least I end it a little wiser.   Most days, I wake up at 4:30 a.m. If I’m even five minutes late, traffic turns into a nightmare. Days blur into weeks, weeks into months. And every morning, as I see so many cars on the road, it hits me – I’m not alone. We’re all fighters in our own way. Fighters of life. Sometimes I catch myself comparing my...

A Table for One, But Not Alone

Life is kind of funny.  I remember seeing something that once felt strange—a man, sitting in the middle of a bar, laptop open. The music was loud, the crowd louder. He sat at a table with a few others, drink in hand, earphones in, eyes locked on his screen. It was like he was in a different world, writing something only he understood, even with friends around him.    I stared, not out of judgement, but curiosity.  How could someone focus in all that noise?   Years passed, and now… I am that man.    Not in a bar, but in a restaurant I’ve only visited a few times. It’s tucked inside a mall, yet it doesn’t feel like the usual kind of place where people pull out laptops. The room is big, warm with energy, filled with the scent of freshly made pasta—creamy, buttery, and slightly garlicky, the kind that instantly makes your stomach flutter. Music plays overhead, familiar songs I know by heart, though in softer, jazzier renditions. Cover versions, maybe. The ...

Adulthood

Just got back from my hometown after a Chinese New Year trip. And if there’s one thing I keep thinking about since then, it’s this— so this is what being an adult feels like.   The weight of responsibility sits heavier each year. Being the only son means taking care of my mom, making sure she’s okay, making sure I’m okay. My back aches at least once a week, a little reminder that my body isn’t as resilient as it used to be. My eyesight is getting worse, even though I’ve tried to cut down my screen time. I’ve been trying to eat cleaner—less carbs, less sugar, more water, and workouts six days a week. ( Tried , at least. The last time I jumped rope, I somehow hurt my back. No idea how that happened, but it did.)   And then, there’s time. It moves differently these days. Slipping through my fingers faster than I can hold onto it. One moment, I was in Japan celebrating New Year, and now? It’s already February.  How?   Spending time in my hometown felt like a break from r...